Gadis Salon Yang Binal

Mungkin karena aku sedang ereksi membayangkan persetubuhanku dgn Santi, kuurungkan niatku untuk keluar kantor dan aku berbalik menuju ruangan kantorku kembali.

“Dona sebentar ke sini” perintahku lewat telpon.

“Ada.. Apa pakk..” jawabnya agak gugup “Pokoknya sebentar ke sini. Cepat!!” perintahku lagi dgn suara agak kutinggikan.

“Babbaikk. Pak” Mungkin dia sdh tahu apa yg akan terjadi pada dirinya sebentar lagi. Aku memang kadang memanggilnya ke ruanganku sekedar untuk memuaskan hasrat birahiku.

Biasanya aku melakukannya sehabis jam kerja, ketika kantor telah sepi. Tp terkadang aku memanggilnya untuk sekedar seks kilat agar dapat meredakan keteganganku, yg dapat membuat konsentrasi kerjaku terganggu.

Donapun tak lama telah muncul di ruanganku. Setelah kusuruh mengunci pintu, aku perintahkan dia untuk duduk di sofa tamu. Wajahnya yg cantik tampak pasrah dgn keadaan yg mengharuskan dia untuk menjadi sarana pelampiasan nafsu kelelakianku.

Kuelus-elus pundaknya, dan kukecup pipinya.

“Kamu sdh berani kurang ajar ya.. Bikin saya terangsang.

Kamu harus tanggung jawab!” kataku sambil menjambak rambutnya gemas.

“Ehh..” hanya itu erangan yg keluar dari mulut Dona ketika rambutnya kutarik, sehingga aku dapat leluasa menciumi bibirnya yg indah.

Tangankupun segera melucuti kancing bajunya. Kuturunkan ke bawah cup BHnya sehingga buah dada Dona mencuat keluar. Kujilati dgn ganas buah dadanya yg membusung itu, sambil terkadang kuisap-isap putingnya.

Donapun kembali mengerang tertahan, xvideos seperti suara orang menangis. Sementara perutku sdh mulai keroncongan. Sambil terus menikmati buah dada resepsionis cantikku ini, kulihat jam tangan Rolexku.

Wah sdh jam 12.30, pantas aku sdh lapar, pikirku. Akupun ingin cepat-cepat ejakulasi sehingga dapat segera pergi makan siang. Segera aku berdiri agak menyamping menghadap Dona yg masih duduk di sofa.

Kubuka celanaku berikut celana dalamnya, sehingga kemaluanku melonjak keluar hampir mengenai wajahnya. Kurangkul kepala Dona dgn tangan kiriku, sementara tangan kananku menyorongkan kemaluanku untuk dihisapnya.

Rasa hangat yg nikmat segera menjalar ditubuhku ketika kemaluanku menerobos mulutnya. Donapun menghisapi kemaluan bosnya seperti seorang budak seks yg patuh.

“Ya.. Begitu.. Pintar kamu..” kataku memujinya, saat kulihat kepalanya yg maju mundur mengulum kemaluanku.

“Mentang-mentang cantik sdh berani merangsang ya.. Ayo isap terus.. Yeeah you little slut..” racauku lagi sambil meremasi rambutnya.

Beberapa saat kemudian kulihat lagi jam tanganku, sekarang sdh jam 12.45, sementara entah mengapa belum ada tanda-tanda ejakulasi akan aku alami. Mungkin karena terburu-buru, malah membuat ejakulasiku semakin lama.

Sementara perutkupun semakin keroncongan. Tak sabar, kutepis tangan Dona yg memegang kemaluanku. Lalu aku bergeser sedikit sehingga tepat berada di hadapannya. Kupegang dgn erat kedua belah pipinya, dan kugenjot kemaluanku ke dalam mulutnya.

Semakin lama semakin cepat aku pompa mulut resepsionis ABGku ini sampai diapun tersedak-sedak. Kucabut keluar sebentar kemaluanku, sehingga Dona dapat mengambil nafas, lalu kembali kuhujamkan ke dalam rongga mulut dan kerongkongannya.

Tampak air mata membasahi pipinya yg aku pegang erat.

“Hek.. Hek..” terdengar suara Dona mengerang menahan desakan kemaluanku di mulutnya.

“Ha.. Ha.. Dasar ABG.. Suka penis kamu ya.. Enak khan penis besar.. Pacarmu sdh jelek, penisnya kecil pula.. Kasihan deh kamu” kataku melihat dia tersedak-sedak.

Kucabut kembali kemaluanku untuk memberinya waktu untuk mengambil nafas, dan kemudian kupompa kembali ke dalam mulutnya.

Tak lama aku merasakan hampir mencapai orgasme. Kucabut kembali kemaluanku.

“Ayo sekarang hisap perlahan.

“Yg lembut” perintahku.

Donapun kembali dgn patuhnya menghisapi kemaluanku. Kali ini dia yg memaju mundurkan kepalanya saat mulutnya disesaki oleh kemaluanku.

Sementara tangannya memegang pangkal batangnya.

“Jangan pakai tangan!!” kataku.

Donapun dgn cepat seperti ketakutan melepaskan pegangannya.

“Lihat sini dong.. Gimana sih!!” tegurku ketika dia memejamkan matanya ketika mengulum kemaluanku. Donapun membuka matanya dan menatap ke atas, ke arahku. Rasa puas hinggap di sekujur tubuhku dapat mengerjai karyawan cantik seperti Dona ini.

Sambil berkacak pinggang kuperhatikan Dona dgn lembut menghisapi kemaluanku. Beberapa saat kemudian, ejakulasiku sdh tak tertahan lagi. Kupegang dgn erat kembali kepala Dona, dan kuhujamkan kemaluanku ke dalam kerongkongannya.

Aku tak mau spermaku membasahi pakaianku. Kulirik jam tanganku. Jam 1.05 siang. Akupun bergegas membenahi pakaianku.

“Ayo cepat.. Cepat!!” perintahku pada Dona yg masih menyeka bibirnya dgn tisu. Diapun segera membereskan BHnya dan menutup kancing bajunya. Kamipun keluar ruangan kantorku. Kuparkir mobil Mercy metalikku di basement sebuah mal yg tak begitu jauh dari kantorku.

Beberapa waktu yg lalu sebuah bom meledak di depan hotel tak jauh dari mal tersebut. Semoga saja kali ini tak terjadi hal seperti itu. Kubergegas menuju restoran steak kesukaanku. Setelah makan di restoran franchise dari Afrika Selatan itu, badankupun kembali segar.

Pikirankupun kembali cerah, terlebih setelah aku sempat memuaskan dahaga seksualku tadi di kantor. Akupun memutuskan jalan-jalan sejenak di mal sebelum kembali ke kantor, sekalian untuk membeli HP keluaran terbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.